JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian pelaku pasar keuangan pada perdagangan hari ini.
Dinamika global yang dipicu oleh konflik geopolitik serta sejumlah indikator ekonomi domestik dinilai masih memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Kondisi ini membuat para analis memperkirakan rupiah akan bergerak dengan kecenderungan melemah terhadap dolar Amerika Serikat.
Selain faktor global, sentimen dari dalam negeri juga turut memengaruhi arah pergerakan rupiah. Penurunan cadangan devisa serta melemahnya tingkat kepercayaan konsumen menjadi beberapa indikator yang dinilai memberikan tekanan tambahan bagi mata uang nasional. Meski demikian, pemerintah menilai pelemahan yang terjadi masih dalam batas moderat dan relatif lebih baik dibandingkan sejumlah negara lain di kawasan.
Proyeksi Pergerakan Rupiah Hari Ini
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini, Kamis, 12 Maret 2026 diramal melemah. Rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp16.880 sampai Rp16.910.
Pada perdagangan kemarin, rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS. Konflik geopolitik dan indikator data ekonomi domestik menjadi sentimen utama yang menyertai rupiah di pasar keuangan.
Melansir Bloomberg, nilai tukar rupiah terdepresiasi 0,14% atau 23 poin ke Rp16.886 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS naik tipis 0,05% ke 98,87.
Rupiah terdepresiasi meskipun indeks dolar AS sedang melemah dari level tertingginya dalam 3 bulan terakhir imbas konflik geopoilitik global.
Sentimen Domestik Membebani Rupiah
Trading Economics mencatat, faktor domestik membebani sentimen rupiah di pasar keuangan. Cadangan devisa turun ke level terendah tiga bulan pada bulan Februari.
Dari sisi data, kepercayaan konsumen juga menurun pada bulan Februari setelah mencapai level tertinggi satu tahun pada bulan Januari, mencerminkan tekanan biaya yang meningkat menjelang Idul Fitri.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dinamika ekonomi domestik juga memainkan peran penting dalam menentukan arah pergerakan nilai tukar rupiah. Ketika sejumlah indikator ekonomi menunjukkan perlambatan, pelaku pasar cenderung bersikap lebih berhati-hati terhadap aset di negara berkembang.
Pengaruh Konflik Geopolitik Global
Sementara itu, pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan dari sisi sentimen luar negeri, pasar sedang terguncang oleh gangguan pasokan energi global karena Iran mulai memblokir Selat Hormuz sebagai tanggapan terhadap serangan AS dan Israel.
Teheran mengatakan akan terus menyerang kapal-kapal di selat tersebut hingga penghentian permusuhan terhadap Republik Islam.
"Presiden AS Donald Trump mengklaim minggu ini bahwa perang hampir berakhir. Tetapi Iran menolak klaimnya, menyatakan bahwa Teheran akan memutuskan kapan konflik berakhir," jelas Ibrahim.
Ibrahim juga menjelaskan bahwa saat ini kredibilitas fiskal Indonesia sedang disorot pasar global, sejalan dengan lembaga pemeringkat dunia yang merilis pandangannya terhadap Indonesia, yakni Moody's, S&P dan Fitch.
Ketidakpastian global seperti konflik geopolitik biasanya mendorong investor untuk beralih ke aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS. Kondisi tersebut sering kali memberikan tekanan tambahan bagi mata uang negara berkembang.
Pemerintah Nilai Pelemahan Rupiah Masih Moderat
Dalam kesempatan yang berbeda, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut mendapat banyak kritikan karena nilai tukar rupiah yang sempat menembus batas psikologis di angka Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Meski demikian, dia memastikan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan ini akibat eskalasi konflik antara Israel-Amerika Serikat Vs Iran.
Purbaya juga optimistis nilai tukar rupiah tetap akan terjaga.
Purbaya menjelaskan bahwa di tengah meningkatnya dinamika global dan tensi geopolitik yang mengerek ketidakpastian, tekanan yang mendera sektor keuangan domestik terbilang moderat. Menurutnya, pelemahan rupiah saat ini terjadi sejalan dengan tren penguatan dolar AS secara global.
"Rupiah terdepresiasi secara moderat, sejalan dengan penguatan dolar AS global dan relatif lebih baik dibandingkan banyak negara peers [sebanding]. Ini mencerminkan ketahanan eksternal Indonesia serta koordinasi fiskal-moneter yang kuat," katanya di konferensi pers APBN Kita.
Kinerja Rupiah Masih Lebih Baik dari Negara Kawasan
Berdasarkan data yang dipaparkan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat hanya mengalami depresiasi sebesar 0,3% sejak Israel-AS meluncurkan rudal ke Iran pada 28 Februari 2026 waktu setempat.
Purbaya menjelaskan angka pelemahan tersebut jauh lebih baik apabila disandingkan dengan kinerja mata uang negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara.
Dia membandingkan dengan ringgit Malaysia tercatat melemah hingga 0,5%, sedangkan baht Thailand terdepresiasi lebih dalam hingga 1,6%.
"Jadi, kita masih lumayan. Jadi bukan lihat level [kursnya] saja, tetapi kita lihat seberapa besar dampak pelemahannya. Dari situ, posisi kita masih lumayan," tegasnya.
Lebih lanjut, bendahara negara ini menekankan bahwa daya tahan rupiah yang lebih baik dibandingkan negara kawasan memberikan sinyal positif bagi perekonomian nasional. Kondisi tersebut, kata Purbaya, membuktikan bahwa pasar dan investor global masih memandang Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang solid.
"Kita masih oke, artinya kita masih dianggap mampu menjaga kebijakan fiskal dan moneter yang baik, serta fondasi ekonomi kita yang tangguh," pungkasnya.
Sebagai catatan, rupiah sempat menembus batas psikologis di atas Rp17.000 per dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sempat dibuka melemah 76 poin atau 0,45% ke posisi Rp17.001 per dolar AS pada Senin, 9 Maret 2026 pagi.