Menag Sebut Indonesia Bisa Jadi Pusat Peradaban Islam Modern

Menag Sebut Indonesia Bisa Jadi Pusat Peradaban Islam Modern
Menteri Agama Nasaruddin Umar.

JAKARTA - Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan bahwa Indonesia mempunyai kesempatan besar untuk menjelma sebagai pusat baru bagi peradaban modern dunia Islam, yang bersandar pada sejumlah faktor keunggulan dalam negeri yang terpantau stabil di tengah konstelasi geopolitik global.

“Maka itu banyak sekali ekspektasi ke depan ini membayangkan Indonesia itu akan menjadi kekuatan baru munculnya peradaban baru, bukan lagi di Timur Tengah tetapi ini tuh akan pindah ke Indonesia yang akan datang," ujar Menag membuka Seminar Nasional IKA PTKIN di Jakarta, Selasa.

Nasaruddin Umar menuturkan bahwa elemen utama yang melandasi keyakinan ini ialah ketangguhan makroekonomi nasional yang terhitung sangat solid.

Ketika kawasan Timur Tengah seringkali dihadapkan pada situasi tidak menentu akibat konflik yang tak kunjung usai, progres ekonomi Indonesia dilaporkan konsisten bertengger di level 5 persen ditopang oleh laju inflasi yang rendah serta terjaga.

"Pemikiran yang tenang itu hanya akan bisa lahir di dalam negara yang tenang, yang stabilitas ekonominya kuat,” kata Menag.

Menag mengutarakan aspek penyokong lainnya mencakup sifat umat Islam di Indonesia yang dipandang amat moderat, tingginya jaminan terhadap hak asasi manusia, stabilitas perpolitikan dalam negeri yang kondusif, serta optimalisasi pemanfaatan bonus demografi.

Demi mengawal momentum lompatan peradaban itu, mutu serta kapabilitas keilmuan para lulusan PTKIN ditegaskan harus melewati proses perubahan yang masif.

Menag mengimbau dilakukannya penataan ulang kompetensi supaya para alumni tidak melulu jago dalam khazanah keagamaan klasik, namun juga selaras dengan perkembangan sains modern.

"Kami sebagai alumni UIN harus punya kesadaran geopolitik yang tinggi juga. Kami jangan hanya mahir membaca kitab kuning, tetapi kitab putih juga. Tidak kompatibel sebagai alumni UIN kalau kami tidak perlu menguasai situasi regional dan nasional kami," kata Menag.

Terkait dengan langkah itu, institusi pendidikan keagamaan yang berada di bawah naungan Kemenag diinstruksikan untuk mencetak lebih banyak inovator serta penemu riset-riset mutakhir.

Kemapanan sebagai pencipta ilmu pengetahuan ini dapat diraih lewat penyatuan antara perintah untuk belajar (iqra') dan nilai-nilai ketuhanan (bismi rabbik), berkaca pada masa kejayaan Islam (The Golden Age of Islam).

"Kalau Indonesia ingin menjadi epicentrum peradaban dunia modern, maka tidak ada cara lain kami harus melahirkan seribu BJ Habibie di Indonesia," katanya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index