JURNALNESIA.ID — Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan pendidikan pesantren tidak cukup mengasah kecerdasan akal semata, tetapi juga harus membentuk kebersihan hati dan kedalaman batin santri. Penegasan itu disampaikan saat meninjau dua pondok pesantren di Kediri, Jawa Timur, dalam rangkaian kunjungan kerja Kementerian Agama.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan pentingnya keseimbangan antara kemampuan intelektual dan kebersihan hati dalam pendidikan pesantren. Menurutnya, proses menuntut ilmu tidak bisa hanya mengandalkan daya hafal dan kecerdasan otak.
Pernyataan itu disampaikan Nasaruddin saat mengunjungi Pondok Pesantren Al Amin di Kediri, yang diasuh Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia KH Anwar Iskandar. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya Kementerian Agama memperkuat perhatian terhadap ekosistem pesantren secara menyeluruh.
Hati Bersih sebagai Kunci Penerimaan Ilmu
Nasaruddin menyebut kebersihan hati menjadi syarat utama agar ilmu dapat diterima dan dipahami secara mendalam. Ia menilai pendekatan pendidikan yang hanya mengejar capaian akademik akan kehilangan dimensi penting dalam pembentukan karakter santri.
"Ilmu Allah tidak cukup diraih dengan belajar dan menghafal. Kalau mau mendapatkan ilmu Allah, hati harus bersih," ujar Imam Besar Masjid Istiqlal itu.
Ia berharap pesantren mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak, nurani, dan kedalaman spiritual. Menurutnya, pesantren mengajarkan ilmu melalui akal sekaligus batin, intuisi, nurani, wahyu, dan ilham.
Penguasaan Bahasa Asing Jadi Bekal Santri
Usai bersilaturahim di Pesantren Al Amin, Nasaruddin melanjutkan kunjungan ke Pondok Pesantren Salafiy Terpadu Ar-Risalah Lirboyo, Kediri. Kedatangannya disambut Pengasuh PPST Ar-Risalah Lirboyo, Nyai Hajah Aina Ainaul Mardliyah Anwar.
Di hadapan para santri, Menteri Agama mendorong mereka tekun belajar dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan global. Salah satu hal yang mendapat perhatian khusus adalah penguasaan bahasa asing.
PPST Ar-Risalah Lirboyo mengembangkan pembelajaran sejumlah bahasa, di antaranya Arab, Inggris, dan Mandarin. Nasaruddin meminta para santri memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sungguh-sungguh.
"Belajarlah bahasa sebanyak-banyaknya. Bahasa adalah jendela untuk mengenal dunia. Dengan menguasai bahasa, santri dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan masyarakat yang lebih luas," katanya.
Dukungan MUI dan Penguatan Kelembagaan Pesantren
Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar mendoakan agar Nasaruddin diberi kemudahan dalam menjalankan amanah sebagai Menteri Agama. Ia juga memohon kesehatan, kekuatan, dan keberkahan bagi menteri dalam menjalankan tugasnya.
Rangkaian kunjungan ke Ponpes Al Amin dan Ar-Risalah disebut sebagai bagian dari penguatan perhatian Kementerian Agama terhadap pesantren. Langkah tersebut sejalan dengan kehadiran Direktorat Jenderal Pesantren yang secara khusus menangani pengembangan dan penguatan ekosistem pesantren.
Kehadiran direktorat baru itu diharapkan mempercepat berbagai program peningkatan kualitas pendidikan pesantren, termasuk pengembangan kapasitas santri di bidang bahasa dan ilmu keagamaan.